Bangun ITICM, Ketua Pembina Yayasan Ingatkan Dosen Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Juga Jalan Pengabdian
SIDOARJO – Menjadi seorang pendidik di perguruan tinggi swasta menuntut dedikasi yang melampaui batas kewajiban akademis semata. Hal ini ditegaskan dengan penuh semangat oleh Ketua Pembina Yayasan Yatim Mandiri, Yusuf, S.Pd., M.M., di hadapan jajaran pimpinan dan dosen Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM), Kamis (11/6/2026).
Dalam arahannya, Yusuf terlebih dahulu menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh civitas academica, khususnya bagi para pendidik yang baru bergabung dengan keluarga besar ITICM.
"Bagi yang baru, saya berterima kasih atas niat join dengan ITICM. Mudah-mudahan kehadirannya membawa dampak positif, perkembangan, kemajuan, dan kemandirian bagi institusi yang kita rintis dan kita cintai ini," tuturnya membuka sambutan.
Kisah Hidup dan Nasihat Sang Kiai
Guna memantik semangat para dosen, Yusuf membagikan penggalan kisah perjuangan hidupnya di masa lampau yang sarat akan kerja keras. Setelah lulus dari Bawean pada tahun 1994, ritme hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk mengabdi dan belajar.
Sehari-hari, waktu itu, ia mengajar mengaji di waktu subuh, menjadi tenaga marketing Yayasan Yatim Mandiri di pagi harinya, kemudian menempuh bangku kuliah sejak pukul 4 sore hingga 10 malam. Sepulang kuliah, ia kembali mengajar Bahasa Inggris. Siklus tak kenal lelah itu terus ia jalani hingga lulus.
Konsistensinya di dunia pendidikan rupanya berakar dari sebuah pesan luhur. "Pesan kiai saya, mengajar itu tidak boleh ditinggalkan. Bisa menjadi trainer, guru, dosen, atau penulis buku," kenangnya.
Kecintaannya pada ilmu pengetahuan juga memotivasinya untuk terus menempuh pendidikan mulai dari jenjang S-1, S-2, S-3, hingga bercita-cita meraih gelar Profesor. Ia pun mendorong seluruh tenaga pendidik di ITICM untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya, terlebih saat ini Yayasan Yatim Mandiri telah menaungi dua perguruan tinggi, yakni ITICM dan STAINIM.
"Sampai sekarang dan kapan pun, saya tetap menjadi guru," tegasnya.
Makna Keberkahan sebagai Pendidik
Di mata Yusuf, profesi guru atau dosen adalah ladang kemuliaan. Ia meyakinkan para dosen bahwa jalan hidup yang mereka pilih saat ini sudah sangat tepat.
"Saya menguatkan, udah bener hidup antum. Jadi guru itu luas sekali. Allah akan menjanjikan berbagai kemanfaatan, kemuliaan, keberkahan, dan hidup yang jauh lebih damai serta tenteram," ujarnya.
Ia juga meluruskan pandangan umum mengenai konsep keberkahan hidup. Menurutnya, keberkahan tidak selalu diukur dari hal material, melainkan dari tingkat ketaatan seseorang.
"Berkah itu jalannya ketaatan. Waktunya shalat ya shalat, waktunya mengaji ya mengaji, tidak mengganggu saudaranya, itu sudah pasti berkah. Jangan mengukur rezeki dengan logika kita. Melangkah saja, do the best. Kesehatan, rezeki, karier, dan teman yang sebaik-baiknya akan membersamai kita," jelas Yusuf penuh makna.
Tuntutan Memiliki 'Mental Pejuang'
Memasuki poin krusial arahannya, Yusuf mengingatkan bahwa mengabdi di perguruan tinggi swasta membutuhkan ketangguhan mental ekstra. Ia meminta agar seluruh dosen meluruskan niat bahwa apa yang mereka kerjakan di ITICM adalah bentuk perjuangan dan pengabdian.
"Antum mengajar di lembaga swasta, mentalnya harus lebih baik daripada yang lain. Saya harap di ITICM ini punya mental berjuang. Tidak hanya sekadar mengajar, tapi ayo bersama-sama menumbuhkan institusi yang kita cintai ini," tegasnya.
Untuk mewujudkan kampus yang mandiri dan unggul, Yusuf menekankan bahwa tugas seorang dosen ITICM tidak berhenti di ruang kelas.
"Untuk bisa menumbuhkan institusi, dibutuhkan mental pejuang. Saya berharap dosen tidak hanya sekadar mengajar, tapi juga menjadi ambassador, menjadi marketer, dan menjadi orang yang ikut mengembangkan mahasiswa. Mental itu sejak awal sudah harus ada," pungkasnya memberikan instruksi tegas sekaligus motivasi.
