Bekali Siswa Baru SMK Graha Madina Singosari, Dosen ITICM: Pengusaha Harus Berani Hadapi Risiko
SINGOSARI – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di SMK Graha Madina Singosari, Kabupaten Malang, diwarnai dengan semangat kemandirian melalui sesi pembekalan kewirausahaan. Kegiatan yang berlangsung di Aula SMK Graha Madina Singosari pada Kamis (16/7/2026) ini menghadirkan Dosen Bisnis Digital ITICM Sidoarjo, Arvendo Mahardika, S.Pd., M.M. sebagai narasumber utama untuk membekali para siswa baru.
Kehadiran sosok yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi AboutMalang.com tersebut merupakan tindak lanjut atas undangan resmi dari Kepala SMK Graha Madina Singosari, Yuliyanto Wahyu Hidayat, S.H.I. dan Kepala Program Keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV), M. Fuad Rizka, S.Kom. Membawakan materi bertajuk "Mindset dan Realita Berwirausaha", Arvendo mengajak para siswa untuk menyelami realita dunia usaha di era digital.
Untuk memantik motivasi peserta, sosok yang juga diamanahi menjadi Kepala LPPM, Kerja Sama, dan Inkubator Bisnis ini membagikan kisah unik dan penuh inspirasi di balik usaha pertamanya yang ia rintis pada tahun 2013 saat masih duduk di kelas X SMK, alias saat berstatus siswa baru. Siapa sangka, cikal bakal perjalanannya di dunia bisnis justru berawal dari sebuah tugas spiritual selepas mengikuti seminar motivasi saat SMP.
"Waktu itu pematerinya berpesan, kalau kamu punya cita-cita, gantung benda yang ada hubungannya dengan cita-citamu itu di kamar. Pastikan terlihat setelah habis salat, sehingga kamu bisa mendoakannya. Kebetulan cita-cita saya saat itu ingin jadi guru, dan guru itu sangat identik dengan papan nama dada," kenang Arvendo di hadapan para siswa.
Lantaran tidak memiliki cukup uang untuk memesan papan nama dada sungguhan, ia tak kehabisan akal. Arvendo, yang saat itu bersekolah di jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), melihat peluang dari banyaknya limbah kaset CD bekas di jurusannya sendiri dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).
"Karena saya nggak punya duit, akhirnya saya bikin papan nama dada dari kaset bekas. Saya juga nggak mengerti awalnya kok bisa kepikiran ide itu. Saat ada kompetisi kewirausahaan internal di sekolah, karya itu saya ikutkan dan ternyata berhasil meraih Juara 3," ceritanya bangga.
Prestasi kecil itu rupanya menjadi pintu pembuka rezeki. Ketika kepala sekolahnya saat itu dimutasi ke tempat baru, Arvendo justru mendapat kejutan besar. Sang mantan kepala sekolah memesan 216 keping nametag hasil karyanya untuk dipakai oleh para guru di sekolah yang baru. Sejak momentum itulah, pesanan nametag terus mengalir deras kepadanya.
Menariknya, doa dan cita-cita yang ia gantungkan bertahun-tahun lalu itu kini benar-benar terwujud.
"Alhamdulillah, cita-cita itu akhirnya terkabul, meskipun tidak persis sebagaimana bayangan saya dulu. Sekarang saya justru mendapat amanah menjadi seorang dosen dan kerap dipercaya membagikan ilmu sebagai pemateri di berbagai event seperti ini," tambahnya sambil tersenyum mensyukuri jalan hidupnya.
Perjalanan karier dan wirausahanya terus berkembang pesat. Ia menceritakan bagaimana pengalaman magang membawanya memperluas relasi, hingga pada puncaknya di rentang tahun 2020 hingga 2023, ia berhasil menangani berbagai proyek digital dari klien internasional seperti Singapura, Amerika Serikat, Taiwan, dan Malaysia. Eksistensinya di dunia usaha semakin matang usai mendirikan AboutMalang.com pada 2021 dan sukses menyabet gelar Juara 1 Malang Youth Entrepreneur 2025 dari Disporapar Kota Malang.
Di hadapan para siswa, Arvendo juga membedah tajam perbedaan cara pandang antara seorang karyawan dan seorang pengusaha. Menurutnya, kesiapan mental adalah fondasi utama sebelum terjun ke dunia bisnis.
"Perbedaan mendasar antara pekerja dan pengusaha ada pada mindset. Pekerja biasanya mencari stabilitas, fokus mengerjakan tugas yang diberikan, dan mengharapkan gaji tetap. Sedangkan seorang pengusaha harus berani berhadapan dengan risiko, selalu berorientasi pada penciptaan solusi, dan harus siap dengan kondisi pendapatan yang variatif," tegasnya.
Menutup sesinya, ia menyoroti tingginya peluang wirausaha digital akibat perubahan zaman, sekaligus memberikan gambaran nyata bahwa dunia bisnis tidak seindah ekspektasi yang kerap terlihat di media sosial.
"Ingat, realita di dunia usaha itu tidak selalu untung. Tantangan di era digital saat ini sangat besar, mulai dari tingkat persaingan yang tinggi, pergeseran teknologi yang sangat cepat, hingga kurangnya literasi digital di tengah masyarakat kita. Kuncinya cuma dua: mau belajar dari kegagalan dan harus mampu beradaptasi secara berkelanjutan," pungkas Arvendo.
Penulis: Tim Inkubator Bisnis ITICM
