Bukan Sekadar Estetika Visual, Pakar Media ITICM Puji Kekuatan Emotional Branding MV JKT48 Ayo Senyumlah
SIDOARJO - Peluncuran karya visual dari single original terbaru idol group JKT48 bertajuk "Ayo Senyumlah" beberapa waktu lalu sukses membetot perhatian publik secara masif. Dari kacamata kajian media dan konten, music video (MV) ini tidak sekadar hadir sebagai produk hiburan pop standar, melainkan sebuah manuver strategis yang meramu pesan visual dan lirik secara kontras dengan dinamika sosial saat ini.
Di tengah himpitan berbagai persoalan bangsa, karya digital ini justru mendobrak arus dengan membawa narasi optimisme yang menyegarkan dahaga masyarakat akan hiburan bernilai positif.
"Lirik 'ayo senyumlah' di tengah karut-marut problem nasional ini seakan menjadi sebuah anomali, namun secara teori justru di situlah letak kekuatan emotional branding yang membuatnya sangat relevan," ujar pakar media sekaligus Dosen Bisnis Digital Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM), Arvendo Mahardika, Jumat, 6 November 2026.
Daya dobrak utama dari produk konten ini terletak pada kecerdasan manajemen dalam mengeksekusi strategi promosi budaya yang berani dan elegan. Hal tersebut terekam jelas dari balutan visual yang memadukan keanggunan wastra Nusantara, mulai dari batik, ulos, hingga songket yang dikenakan member JKT48 dalam seragamnya, dengan latar kemegahan situs warisan dunia seperti Candi Borobudur dan Prambanan.
Menurut Arvendo yang juga menjabat sebagai Kepala LPPM, Kerja Sama, dan Inkubator Bisnis ITICM, eksekusi visual ini merupakan taktik pemasaran tingkat tinggi yang dirancang matang.
"Pendekatan cultural branding melalui elemen kain tradisional dan destinasi ikonis ini bukan sekadar estetika, melainkan strategi jitu untuk menaikkan nilai jual di pasar global tanpa mencabut akar kelokalannya," tegasnya.
Di balik kemegahan sinematografi warisan budaya tersebut, MV ini cerdik menyeimbangkan narasinya dengan elemen humanis di akar rumput. Pengambilan latar di kawasan Cisarua, Jawa Barat yang memotret interaksi bersahaja para anggota grup saat menghibur lansia di panti jompo, hingga bermain sepak bola bersama bocah-bocah kampung, sukses memantik sisi simpati penonton.
Sebagai praktisi yang malang melintang di industri media digital, Arvendo memandang skenario ini memiliki daya pikat emosional yang tajam.
"Penyisipan adegan sosial komunal ini adalah implementasi brilian dari empathy marketing, di mana grup membangun koneksi batin terdalam dengan audiensnya melalui aksi kepedulian yang autentik," terangnya.
Lebih jauh, proses produksi karya ini secara revolusioner mendobrak batas hierarki antara idola dan penggemar. Pelibatan langsung ratusan fans dalam proses syuting massal di kawasan Car Free Day (CFD) Sudirman, Jakarta, membuktikan kejelian membaca algoritma sosial.
Keterlibatan massa secara organik di ruang publik terbuka ini tidak hanya menciptakan efek viralitas yang terukur, tetapi juga mengunci loyalitas komunitas pada level tertinggi.
"Pelibatan ratusan penggemar di CFD Sudirman ini adalah wujud nyata dari strategi co-creation dan community marketing, di mana fans turut andil menjadi bagian dari sejarah penciptaan produk itu sendiri," papar Arvendo membedah strategi komunitas tersebut.
"Secara keseluruhan, pengemasan produk kreatif berbasis musik ini dinilai sukses keluar dari pakem usang video klip grup idola yang biasanya hanya terkungkung pada koreografi di dalam studio tertutup. MV "Ayo Senyumlah" membuktikan bahwa industri musik pop dapat dikemas menjadi medium konten yang menggelegar, relevan, serta mampu menyuntikkan narasi kelokalan secara modern," tutup pria yang juga aktif jadi pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Malang Raya ini.
Penulis: Tim LPPM ITICM
