OPINI: Disrupsi Akal Imitasi, Tawadhu Sang Ahli, dan Hikmah Maulid Nabi

OPINI: Disrupsi Akal Imitasi, Tawadhu Sang Ahli, dan Hikmah Maulid Nabi

Oleh: Arvendo Mahardika, S.Pd., M.M.

Malam ini, di tengah kepulan asap wajan sambil menunggu pesanan nasi goreng saya matang, ingatan saya tiba-tiba kembali ditarik pada sebuah kejadian siang tadi. Sebuah momen yang sukses membuat saya terhentak. Bukan karena sebuah teguran kasar, melainkan dari sebuah momen sepersekian detik yang rasanya seperti gledek datang menyambar.

Hari ini, saya terlibat dalam sebuah forum besar yang mempertemukan para pelaku UMKM dan tenaga kreatif di Malang Raya. Konteks pertemuannya mulia: kami dihadirkan untuk membantu UMKM naik kelas. Salah satu materi yang disuguhkan adalah pemanfaatan Akal Imitasi alias AI untuk promosi.

Semua berjalan lancar. Sang pembicara, yang saya yakin betul tak punya niat sedikit pun untuk mendiskreditkan profesi desainer grafis, tampak begitu antusias. Hatinya sepertinya sedang berbunga-bunga melihat para pelaku UMKM yang diajarinya hari itu pada berhasil membuat konten promosi secara mandiri menggunakan AI. Namun, saking senangnya melihat progres luar biasa dari para peserta, beliau tanpa sengaja keceplosan sebuah kalimat yang kira-kira bunyinya begini:

"Udah, nggak usah desain-desain lagi wes, kan sekarang bisa pakai AI."

Sebagai pekerja kreatif yang terbiasa menghadapi dinamika di lapangan, kalimat itu refleks kami jadikan bahan guyonan. Spontan, seorang kawan di sekitar saya nyeletuk sambil terkekeh menahan tawa, "Wes, wes, mulih ae. Kan gak butuh desainer wesan, iso nganggo AI."

Saya sendiri sama sekali bukan golongan anti-AI. Sebagai dosen bisnis digital sekaligus pengusaha media, saya justru sangat akrab dengan teknologi ini. Malah, saya cukup sering "ditanggap" untuk mengisi lokakarya dan seminar soal etika maupun praktik AI di berbagai lingkungan, khususnya di sekolah-sekolah, untuk menjembatani wawasan industri kreatif dan pendidikan. Namun, ya namanya dinamika forum, saya pun gatal ingin menimpali candaan kawan saya tadi.

Dengan niat sekadar gimmick untuk memancing tawa di barisan kami, saya pura-pura beringsut mau bangkit dari kursi. Namun, di tengah suasana cekikikan tertahan itu, mata saya tanpa sengaja tertuju pada sudut ruangan yang lain.

Di sana, duduk seorang senior, salah satu suhu di dunia kreatif Malang Raya yang rekam jejak dan karyanya sangat saya hormati. Kebetulan sama-sama jadi mentor dengan saya untuk project UMKM naik kelas kali ini.

Alih-alih ikut menertawakan kelalaian si pembicara atau meresponsnya sebagai angin lalu seperti kami, beliau justru terlihat mencondongkan badan, menatap layar proyektor dengan saksama. Berkali-kali ia mengangkat ponselnya, memfoto slide materi di depan, lalu manggut-manggut mengiyakan penjelasan pembicara. Beliau memperhatikan betul semua materi tentang prompting AI tersebut, bahkan tak ragu bertanya dan berdiskusi panjang lebar tentang detail teknisnya.

Deg. Di detik itu juga saya merasa malu yang luar biasa. Tawanya langsung terhenti seketika.

Di saat kami yang merasa sudah "paham" ini sibuk cekikikan menjadikannya bahan guyonan, sosok raksasa di industri ini justru kembali mengosongkan gelasnya. Ia menundukkan kepalanya untuk sungguh-sungguh belajar.

Besok, kita merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Jika kita menarik benang merah kejadian hari ini dengan momen Maulid, ada satu teguran keras yang sering kali kita lupakan di tengah hiruk-pikuk disrupsi teknologi, yakni adaptasi.

Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baiknya teladan dalam hal tawadhu (kerendahan hati) dan keterbukaan terhadap ilmu. Beliau adalah pemimpin besar, kekasih Sang Pencipta, namun tak pernah gengsi untuk menerima hal baru. Kita tentu ingat bagaimana dalam Perang Khandaq, Rasulullah dengan lapang dada menerima strategi membuat parit, sebuah inovasi taktik "impor" dari Persia yang diusulkan oleh Salman Al-Farisi. Beliau tidak menolaknya hanya karena itu bukan cara tradisional Arab. Beliau mengadaptasinya untuk memenangkan pertempuran.

Sang senior kreatif di forum tadi, tanpa sadar, sedang mempraktikkan adab pembelajar sejati yang diajarkan sejak ribuan tahun lalu: uthlubul 'ilma minal mahdi ilal lahdi (belajar dari buaian hingga liang lahat). Beliau tidak melihat AI sebagai ancaman, melainkan sebagai "parit Khandaq" baru yang harus ia pelajari cara menggalinya agar tak tergilas zaman.

Kita sering kali terlalu sibuk menertawakan keadaan atau memperdebatkan apakah Akal Imitasi akan membunuh Akal Manusia, hingga kita lupa pada satu pembeda utama yang tak akan pernah bisa diprogram oleh koding paling rumit sekalipun: empati.

Akal Imitasi bisa meracik perpaduan warna yang indah dalam hitungan detik. Ia bisa menyusun tipografi yang rapi hanya dengan satu kali "Enter". Tapi, ia tak punya kemampuan untuk merasa, berempati, apalagi menundukkan ego untuk belajar dari sekitarnya.

Akal imitasi mungkin memang suatu saat nanti bisa menggantikan desainer grafis yang berhenti belajar. Tapi sampai kiamat pun, mesin tidak akan pernah bisa meniru jiwa seorang kreator yang mau terus menundukkan ego untuk membaca zaman.

Sambil menerima bungkusan nasi goreng dari bapak penjual malam ini, saya mengajak kita semua, para pembaca, mari merayakan hari kelahiran manusia paling mulia ini dengan kembali menjadi manusia pembelajar, yang tak pernah merasa terlalu besar dan gusar untuk sebuah ilmu baru nan segar.

*) Penulis adalah Dosen S-1 Bisnis Digital ITICM sekaligus Kepala LPPM, Kerja Sama, dan Inkubator Bisnis

icon

Ada Pertanyaan

Hubungi Kami Untuk Pengalaman Tebaik Anda

Hubungi Kami
Image


Profil ITICM
img
img
img
Brosur

Entrepreneur Muda ?

Bentuk diri anda di lingkungan yang cepat dan tepat.

Brosur Daftar Sekarang
img
Partner Kami

Bersinergi Membangun Negeri